Monday, 12 January 2015

4 TAHUN TINGGAL DI RUMAH HANTU (BAGIAN 5)

4 TAHUN TINGGAL DI RUMAH HANTU (BAGIAN 5)

Hilangnya Pak Rahmat secara di luar nalar membuat Ane penasaran. Beberapa hari kemudian Ane sengaja mendatangi lagi, mengurutkan dari awal sejak perjalanan dari rumah kami ke tempat Pak Rahmat. Rumah Pak Rahmat tetap tidak dapat ane temukan. Tidak puas dengan pencarian di rute yang sudah ada, ane menyusuri lagi jalanan di depan mata, tapi tetap nihil. Kemudian pencarian fakta ini ane lanjutkan dengan mendatangi Rumah sakit tempat dulu pertama kali kami berkonsultasi dengan Pak Rahmat.
“Alamatnya, ya kami tidak menyimpannya selain alamat itu Pak.” Kata Dokter Heny menjelaskan pada ane.
“Yang kami datangi itu tidak ada rumah lain selain Rumah tua itu Bu.” Kata Ane sedikit menekan suara untuk memberi efek penting pada kalimat yang ane sampaikan.
“Menurut Saya juga nggak jelas itu Pak Rahmat…” Kembali Dokter Heny.
“Maksudnya bagaimana Bu?” tanya Ane.
“Pak Rahmat datang sendiri ke sini, melamar sendiri untuk bekerja di Rumahsakit ini” menjelaskan, Dokter heny.
“O…” Ane membentuk bulatan di mulut.
“Pak Rahmat juga berhenti dari Rumah sakit ini dengan tanpa penjelasan apa-apa.” Ane terdiam, tak mampu mencerna lebih dalam tentang apa yang sedang kami bicarakan.
Ane pulang beberapa waktu kemudian. Penjelasan dari Dokter Heny cukup membuat Ane merasa tidak perlu mencari dan melacak Pak Rahmat lagi.
-Pak Rahmat berhenti dengan tanpa mengajukan berhenti, tapi menghilang begitu saja Pak, tanpa pamitan-
Sepanjang perjalanan pulang, terngiang terus kata-kata Dokter Heny.
Sebuah tanya yang masih belum ada penjelasan sampai sekarang. Tapi Dua kemungkinan yang bisa Ane simpulkan dari kejadian itu mengenai Pak Rahmat. Pak Rahmat itu sebenarnya bukan manusia, tapi makhluk gaib yang mungkin saja tingkatannya di dunia pergaiban sudah tinggi, atau mungkin Pak Rahmat adalah makhluk gaib yang memiliki derajat tinggi sehingga bisa menjelma dan memanifestasikan diri secara langsung, menampakkan dirinya di dunia nyata. Kemungkinan yang kedua, Pak Rahmat itu memang benar-benar ada dan beliau adalah manusia biasa, tapi orangnya mungkin sembrono dengan pergi begitu saja saat bosan dengan pekerjaan, sedangkan yang kami temui di malam itu bukan Pak Rahmat yang sebenarnya.
Lalu siapakah yang kami temuai pada malam itu? Mungkin saja itu adalah jin yang memiliki misi tersendiri sehingga merasa berkepentingan dengan menampakkan dirinya kepada kami.
Sudahlah, Ane sudah suntuk dengan rutinitas kerja yang sudah memakan separuh waktu ane setiap harinya, ditambah dengan berbagai intrik. Ane tak mau lagi semakin memberati beban otak ane. Yang penting, Ane selamat, anak istri juga selamat.
Anak kami sudah semakin bisa dikendalikan emosinya. Jika selama ini dia lebih sering mengusili teman-temannya, Pijar yang sekarang sudah mudah untuk dikendalikan dan mau mengerti keinginan dari orang-orang yang menyayanginya.
Bulan berganti, tahun pun ikut berganti. Selamat pagi alam, selamat pagi kehidupan. Pagi yang jernih, Pagi yang suci. Matahari bersinar menyapu wajah sebuah kampung, Kampung Sindangkarsa. Udara segar yang dibawa angin padang Golf Emeralda membuat ketegangan Ane sedikit mengendur
Di sebuah pondokan beratap asbes sederhana, duduk empat orang dengan pakaian seadanya. Salah satu diantara mereka mengenakan sarung, sambil terus menghisap rokok kretek di tangannya. Hari ini hari libur, Ane bisa bebaskan sedikit beban dari rutinitas kerja. Setelah sekian lamanya waktu Ane banyak tersita oleh kekalutan dengan menurunnya penghasilan, semakin lama semakin drastis. Pak Narto memberitahu Ane, Pak Gimar sedang di pondokan. Pondokan Pemancingan Rohiman. Itulah yang menyeret langkah Ane ke pondokan sepagi ini. Laki-laki berkain sarung itu, namanya Gimar. Ane lebih sering memanggilnya dengan panggilan mBah Gimar. Bukan karena usianya yang sudah tua, tapi karena dia memiliki kelebihan yang jarang dimiliki orang lain. Melihatnya kehadirannya ini, Ane jadi teringat betapa dulu Pak Gimar cukup tangkas dalam “mengobati” Ratih, bekas pembantu ane yang saat itu kesurupan. Kata Pak Narto, mBah Gimar baru beberapa hari ini kembali ke Cimanggis, setelah lama dia pulang ke Sumatera.
“Bagaimana kondisi rumah Bapak sekarang?” Tanya pak Gimar, sambil matanya menatap Ane. yang lain terdiam, asyik menikmati hidangan singkong goreng dari pak Narto. Ane tidak langsung menjawab. Ane tergoda untuk menjajal sejauh mana Pak Gimar menebak suatu keadaan.
“Kelihatannya bagaimana Pak?” tanya ane kemudian.
“Banyak lagi sekarang penghuninya ya?” kata Pak Gimar, balik bertanya.
Akhirnya Ane ceritakan kejadian-kejadian penting setelah kepergian Pak Gimar.
Pak Gimar antusias mendengarkan setiap kata demi kata yang ane ucapkan. Kadang kepalanya menggeleng, kadang manggut-manggut. dari air mukanya kelihatan seolah sedang menerawang sesuatu.
“Bahkan HP Saya, dua-duanya hilang Pak, sampai sekarang tidak kembali!”Kata Ane mengakhiri penjelasan seputar kejadian-kejadian yang pernah muncul di rumah hantu.
“HP-hp itu sudah tidak bakal ketemu, tidak bakal kembali lagi.” Kata pak Gimar mendesis
“Tolong diambilkan deh Pak, Pak Gimar kan bisa menembus Gaib…” kata Ane berharap.
“Tidak bisa Pak, karena HP itu sudah menjadi Mahar” jawab pak Gimar, tegas.
“Mahar bagaimana pak?” tanya ane, tak mengerti. Pak Gimar mematikan rokoknya yang tinggal sejengkal, kemudian menyalakan lagi rokok yang baru. sejurus kemudian dia berkata. “HP-hp itu diambil karena dipandang sebagai mahar Bapak”
Ane semakin tidak mengerti dengan pembicaraan Pak Gimar tentang mahar ini.
“Begini ya Pak, dari berpuluh gaib di rumah itu, ada salah satu yang berwujud perempuan cantik.”
“Perempuan cantik?”
“Iya”
“Lalu bagaimana Pak?”
“Dia cinta sama Bapak dan menikah.”
“Menikah???”
“Menikah Bagaimana Pak? tolong jangan ngacau dong Pak”
“Dia sudah menikah dengan Bapak”
Bulu kuduk ane langsung meremang. Tak pernah terfikirkan ucapan seperti itu akan keluar dari mulut seorang Gimar.
“Saya tidak pernah pacaran atau ketemu dengan makhluk halus yang Bapak maksud, apalagi sampai menikah?” Tanya Ane lagi, sambil menahan galau di hati.
“Itu oleh makhluk gaib bisa dikatakan menikah secara batin. Maka dari itulah kita
………………………………………………………………………….. maaf, cerita terpotong di sini.  Baca NOVELnya aja yah, sekalian lengkap isinya….  :) ini loncatannya ..
***
Apa yang telah dikatakan Pak Gimar sangat membuat Ane schok dan menjadi beban fikiran ane selama berhari-hari. Selama ini tak ada keganjilan mengenai apapun yang ada hubungannya dengan apa yang telah dikatakan oleh Pak Gimar. Ketidakpercayaan Ane ini wajar karena Ane juga tidak pernah mendengar ada pernikahan yang hanya diakui secara sepihak, Makhluk halus pula yang mengklaimnya, entah benar entah tidak ucapan Pak Gimar ini. Akhirnya Pak Gimar mengatakan bahwa apa yang telah dialami tidaklah menjadi gangguan apa-apa, karena bukan keinginan dari manusianya untuk mencintai.
Ane tidak percaya dan tak akan pernah mempercayai hal itu. Ane tak bisa mengatakan hal yang telah membuat Ane murung itu pada Istri Ane. tak ada gunanya membicarakan omong kosong yang telah dikatakan oleh Pak Gimar. Biarlah hal itu Ane hadapi dan selesaikan sendiri omong kosong ini.
Beberapa minggu kemudian, ketika gerimis menaburi atap dengan suaranya yang berisik, Ane berada di suatu tempat, seperti sebuah taman besar. Tepat di taman itu terdapat sebuah kubangan besar yang menyerupai Kolam renang. Ane Hanya sendiri berada di dalam kolam renang itu. Air di Kolam renang itu hanya sedikit membasahi bagian kaki Ane, tidak sampai melewati batas mata kaki. Tapi dingin air ini cukup membuat ane menggigil dan tak ingin sedikitpun ane membasahkan air ini lebih lama, apalagi menyentuhkan bagian lain tubuh Ane. Pada sepanjang lekukan kolam renang yang luas ini banyak sosok manusia yang tidak menghiraukan gerimis yang ada, semua dengan kesibukan masing-masing seperti dalam sebuah tempat wisata. Tampak di sebelah kiri dan kanan orang-orang sibuk berjualan dengan nampan-nampan besar di hadapan mereka, sementara para pembeli hanya saling tunjuk dengan apa yang diingininya, dengan tanpa suara. Yang terdengar hanya suara angin, suara rintik hujan, dan suara hati Ane yang tak mengerti akan apa yang sedang mereka lakukan, akan apa yang sedang terjadi pada Ane.
Nyata sudah bahwa yang sedang berdiri di dalam kubangan basah ini hanya Ane sendiri. Tak ada siapa-siapa di kolam ini, selain Ane yang masih dengan seribu tanda tanya. Lalu Ane paksakan mendekat pada salah satu tepi kolam, melangkahkan kaki menuju garis tangga di depan Ane. Dengan pakaian yang mulai basah dan tubuh kelu oleh gerimis, ane hampir juga mencapai garis tangga itu, sekitar empat langkah untuk Ane bisa memanjat dan berlari menjauh dari kolam renang ini. Semakin mendekat garis tangga, semakin ane dapat melihat lebih jelas. Orang-orang itu, orang-orang itu… berwajah putih. Ya, mereka semua berwajah putih pucat. Pucat pasi, hanya bentuk oval di setiap lingkar luar pelupuk matanya saja yang mengurangi kepucatan wajah mereka. Ane tidak merasa takut, entah mengapa rasa takut itu tidak ada. Beberapa dari orang-orang itu seperti memperhatikan Ane, tapi Ane diam saja. Ane tidak tahu lagi apa yang harus Ane kerjakan. Ane terpaku di sana, diam. Ane baru merinding ketika tatapan mata Ane tertuju pada salah satu wajah pucat pasi, wajah laki-laki misterius. Mirip, sangat mirip. terlintas sebentuk Kucing besar berkelebat di pelupuk mata Ane, Ya. wajah laki-laki itu sangat mirip dengan orang yang berkali-kali Ane temui di sepanjang perjalanan Ane ke Bogor waktu itu, perjalanan mengerikan ketika motor Ane juga menabrak seekor kucing. Wajah orang itu telah membekas di otak Ane saking terlalu sering dia muncul pada malam ketika itu
Orang-orang berwajah pucat itu terus memperhatikan Ane, lalu serentak memalingkan pandangan dari Ane dan manatap kedepan ketika dari Kejauhan tampak berjalan dua Orang dengan berpakaian hitam satu orang Perempuan dengan langkah yang gemulai seakan melayang, posisinya tepat satu langkah di depan sebelah kanan lainnya, laki-laki yang juga berpakaian hitam. Pakaian mereka memiliki motif seperti ukiran dari bordir keemasan. Perempuan yang sangat teramat cantik itu terus melangkah, diiringi laki-laki di belakangnya.
Kemudian baru Ane sadari bahwa perempuan ini mengenakan penutup kepala yang tetap dapat memperlihatkan rambutnya yang indah, lebih menyerupai sebuah Mahkota keemasan. Mereka berhenti tepat didepan ane yang termangu dibawah kolam renang. Seperti ada kekuatan aneh yang membuat Ane melangkahkan kaki Ane ke depan. Si perempuan berwajah cantik ini mengulurkan tangan kanannya meraih tangan kiri Ane, sambil tersenyum. Melihat senyuman itu Ane merasakan sesuatu yang entah dimana dan merasa sudah tidak asing lagi dengan perempuan itu. Lalu dengan tetap meraih tangan kiri Ane, Dia memakainkan sebuah cincin bermatakan batu besar menyerupai Akik, dengan warna putih kecoklatan, besarnya menyerupai ibu jari dengan sebuah tulisan arab, seperti tulisan (Allah) Asma Allah yang sering Ane lihat dalam tulisan-tulisan di kertas maupun kitab.
“Saya seperti mengenal perempuan ini, tapi siapa?” kata hati Ane.
Seperti mengerti isi hati Ane, dia berucap
“Iya. Aku yang datang.. Aku…(dia menyebut sebuah nama besar yang sudah sangat terkenal di mitos kalangan jawa dan Sunda. Red)”
Setelah cincin dipakaikan dan melingkari jari manis Ane, tiba-tiba Ane seperti tersentak oleh sebuah kekuatan dan tak mendapati pemandangan itu lagi, tapi Ane seperti terlempar dan terbaring di kamar utama Ane, sendirian. Tangan Ane meraba kedua kelopak mata Ane, ternyata Ane hanya bermimpi. Terlihat Jam di dinding menunjukkan pukul 2 dinihari. Ane baru ingat bahwa Ane benar-benar sendiri di dalam rumah ini, anak dan istri Ane sudah dua hari ini pulang ke kampung bersama Ibu mertua yang sengaja menjemput mereka beberapa hari yang lalu.
.
Hari-hari yang Kami jalani setelah itu adalah hari yang penuh dengan ketidakpastian, penuh dengan kesialan. Perlahan namun pasti bisnis-bisnis Ane mulai berjatuhan, bertumbangan dan banyak sekali masalah yang kami terima, entah sebab apa. Praktis Ane hanya mengandalkan segala sesuatunya hanya dari hasil kerja Pokok Ane. Ane mengalami pengkhianatan yang begitu besar. Ratusan juta melayang karena uang Ane dibawa lari orang yang telah Ane percayai, hingga usaha yang telah Ane rintis pun hancur dengan menyisakan hutang yang harus Ane tanggung sendiri. Jika saja Rumah dan segala perabotannya dijual semuapun tidak akan cukup untuk membayar jumlah hutang itu. Sedangkan Ane tak dapat berbuat apapun juga.
Orang yang telah mengkhianatii Ane itu lalu meninggal karena Bunuh diri. Ane hanya bisa pasrah, tapi pasrah yang bagaimana, Ane tak mengerti. Hari berganti minggu, berganti bulan… tahun ketiga ane bertahan Ane sudah nggak punya apa-apa lagi dan pintu-pintu rejeki ane seperti tertutup(diTutup?). Beruntung ane masih dilindungi Allah. Ane tetap bertahan, sampai tahun ke tiga ane tinggal disana dengan menanggung duka dan kepedihan. kami mempertahankan hidup seadanya saja. semua gaji langsung habis untuk mencicil hutang, beratus juta, tapi Ane bersyukur tidak sampai mati bunuh diri.
Ditengah kefrustrasian ane, istri ane mengajak ke seorang ulama yang cukup terkenal dan sering muncul di TV. dari sanalah akhirnya tepat tahun ke empat ane sekeluarga tinggal di rumah sialan itu, ane sedekahkan hampir semua barang-barang yang ane miliki dan hanya hanya sisa sedikit bekal untuk kami sekeluarga menempuh hidup baru setelah keluar dari rumah hantu. Rumah itu ane jual murah, hanya separuh harga dari saat ane membeli dulu. ane tidak berfikir untuk menjual lewat kaskus, karena meskipun ane sudah punya ID kaskus sejak tahun 2008 tapi ane tidak mengikuti. Rumah sengaja ane jual murah karena memang orang-orang sekitar juga sebagian sudah pada tahu kalau rumah itu berhantu. Ane mulai lagi semuanya dari Nol.
Alhamdulillah Semua hutang itu akhirnya bisa lunasi setelah ane keluar dari Rumah hantu itu.
Kini Ane menjalani hari-hari Ane bersama anak dan istri Ane, dengan usaha yang kami rintis dari nol lagi dan Ane lebih tenang dalam menjalani profesi Ane sebagai Anggota Pasukan Elit di Kepolisian, sementara istri Ane buka Usaha kecil-kecilan di Rumah baru yang terasa nyaman dan tak lagi ditebar teror.
Beberapa waktu yang lalu, kira-kira belum genap tiga bulan, ane ketemu dengan Pak Yusnadi, RT tempat tinggal ane dulu. Pak Yusnadi ini bercerita bahwa 3bulan semenjak transaksi jual beli rumah ane itu, Pak Abdul(Bukan nama sebenarnya) mulai menemui banyak kesialan. padahal dia orang yang sangat berada dan bahkan memiliki usaha semacam pabrik di luar negeri, Malaysia Tanah Pak Abdul bahkan berceceran di mana-mana. Rumah yang dibeli dari Ane itu tidak ditempati, tapi dibiarkan kosong begitu saja, Tapi entah mengapa Pak Abdul Ribut besar dengan keluarganya sendiri dan belum genap satu tahun Pak Abdul memiliki rumah itu, Pak Abdul meninggal dunia secara mendadak.
Ada orang yang bilang bahwa Pak Abdul meninggal karena serangan jantung, ada juga yang bilang bahwa kematiannya misterius. Sepeninggal ane dari Rumah itu, oleh istri Pak Abdul rumah itu dikontrakkan pada seorang pendatang, seorang ibu-ibu. Entah kebetulan entah karena faktor apa, si Ibu ini juga mengalami kesialan yang juga luar biasa. Usaha yang dia rintis di rumah itu selalu mengalami kebangkrutan. Bahkan dia …(terpaksa tidak bisa ane share dulu krn ane belum minta ijin utk share hal dia ini)
Selain dengan diperlihatkannya makhluk yang sering turun dan naik ditangga, Si Ibu ini juga mendapat teror dalam bentuk lain, termasuk usahanya. Berkali-kali buka usaha selalu berakhir dengan kebangkrutan.
Mendengar cerita Pak RT ini, ane merasa bersyukur dengan melepas Rumah hantu itu. Rumah yang sering hampir membunuh Ane karena keanehan dan pengaruh aura negatifnya.
Dengan wajah yang seperti diliputi rasa takut, pak RT melanjutkan ceritanya. “Rumah itu nggak hanya terdapat 3 buah makam di bawahnya, tapi 13″ dari ingatan para sesepuh. Beberapa dari makam/kuburan itu sudah ada sejak jaman Jepang. Ada nada sesal ketika Pak RT mengucapkan kalimat itu, seperti ingin menarik kembali ucapannya tapi tidak bisa.
“Lalu bagaimana dengan kesepuluh makam yang masih ada itu Pak?” Tanya Ane.
“Makam itu masih tetap ada di sana, tidak bisa dipindahkan.” Kalau memindahkan jasad-jasad itu berarti harus membongkar total rumah itu karena letak makam-makam itu persis di bawah pondasi rumah” Tergambar nada ketakutan dari mimik muka Pak RT yang kelihatan menegang. seperti ada desiran aliran darah yang membuat ane bergidik, ngeri. Tak pernah terbayangkan bahwa selama ini kami, tinggal di Rumah yang berhantu, dengan kuburan yang tidak hanya 3, tapi tigabelas makam di bawahnya.
“Pak RT, ada sosok perempuan dengan wajah dan tubuh berlumuran darah di rumah itu..” Ane kembali memancing pembicaraan dengan Pak RT. “Iya, benar. di sana pernah ada yang kecelakaan, seorang perempuan yang kecelakaan dengan kondisi yang sangat mengenaskan, di depan rumah itu” Menurut teman saya yang mengerti, ibu itu mati penasaran” Jlebbh..!! kembali, bulu kuduk ane meremang.
“Lalu kenapa Lampu-lampu yang kami pasang selalu tidak awet?”
“Sudah dari sananya… Bahwa Lampu atau lilin yang dinyalakan di atas kuburan itu dilarang, dan akan selalu cepat mati/tidak awet. Dan lagi pula, para dedemit, hantu blau, setan peri prahyangan tidak suka dengan keadaan terang”
Ane pandangi Rumah itu, rumah dengan kiri kanan kesunyian. Dindingnya seperti menyiratkan senyuman sinis dan kemanangan. di sebelah kanan rumah itu, yang dulunya kosong, tetap kosong. Di sebelah rumah kosong itu, sekarang sudah ada penghuninya, seorang penghuni baru. pemilik lama pindah dan dibeli oleh orang baru, seorang Batak. Tapi di seberang rumah itu, yang dulu terdapat Rumah besar tapi dibiarkan kosong, sampai sekarang tetap kosong. Bayangan hitam atapnya yang menjulang tinggi akan selalu melemparkan kengerian bagi orang yang melihatnya di waktu malam.
Ane bergidik, ngeri ketika melewati tanjakan di depan bekas rumah Ane, yang telah membawa korban kecelakaan berkali-kali dari sejak Ane belum tinggal di sana sampai setelah ane pindah.
Angin padang Golf merayapi pori-pori kulit tubuh Ane, terasa dingin seperti melepaskan kerinduan pada pertemuan setelah sekian lama terpisah. Ane suka dengan sejuknya anginmu, ane suka dengan kesunyian dan dingin hawamu di waktu malam. Tapi ane tak ingin hidup tergadai oleh rasa takut yang berkepanjangan, selamat tinggal Rumah hantu, selamat tinggal kesunyian, selamat tinggal kesialan. Kuingin kau menjadi doa bagiku, doa untuk ketenangan dan ketentraman di harihari kedepan yang harus ane lalui, bersama anak-anak Ane, bersama istri Ane yang setia, sampai hari tua nanti.


No comments:

Post a Comment