4 TAHUN TINGGAL DI RUMAH HANTU (BAGIAN 4)
Bergantian ane dan istri ane menggendong si kecil, tapi tetap saja anak kami terus menangis sambil menunjuk-nunjuk ke sudut ruang belakang. Ia terus menangis. Ane memandang ke sudut ruang belakang, berharap melihat keganjilan ataupun penampakan setan yang telah membuat anak ane menangis. Tapi hanya gelap, pekat. Tidak ada apa-apa di sana. Kemudian, dengan mengasumsikan bahwa di depan ane terdapat sesuatu makhluk ataupun hantu yang nggak bisa Ane lihat, Ane keluarkan kalimat-kalimat seperti seseorang yang sedang berbicara dengan orang lain, ini sering Ane lakukan dan biasanya anak Ane kembali tenang.
“Tolong jangan ganggu anak Saya ”
“Tolong pergi dari sini”
Tetap nggak ada reaksi apa-apa. Anak Ane masih menangis.
“Tolong jangan ganggu anak Saya ”
“Tolong pergi dari sini”
Tetap nggak ada reaksi apa-apa. Anak Ane masih menangis.
Istri ane yang menggendong si kecil nampak kelelahan. Lalu istri ane secara spontan membacakan ayat-ayat alqur’an. Si kecil terdiam, berhenti menangis. Entah berhenti menangis karena sudah capek atau memang sang pengganggu sudah pergi. Kami pun lega. Ane ajak istri ane masuk kamar utama untuk ketenangan. Tapi baru saja kami buka pintu, terdengar air mengalir dari kran kamar mandi tamu di arah depan. Istri ane ketakutan. Beberapa saat setelah itu lampu ruang tengah dan lruang tamu tiba-tiba padam.
Kami tetap masuk ke dalam kamar. “Tenang aja Ma, nggak usah Takut.” Ane coba menenangkan istri ane walaupun sebenarnya ane sendiri juga takut. Takut kalau hantu-hantu itu marah dan sengaja membuat ulah karena kedatangan tiga paranormal tadi sore.
Kami tetap masuk ke dalam kamar. “Tenang aja Ma, nggak usah Takut.” Ane coba menenangkan istri ane walaupun sebenarnya ane sendiri juga takut. Takut kalau hantu-hantu itu marah dan sengaja membuat ulah karena kedatangan tiga paranormal tadi sore.
Hingga hampir tengah malam ane nggak tidur. Suara air mengalir dari kran masih terdengar, suara yang nggak seberapa keras tapi seakan memekakan telinga ane. Jarak antara kamar mandi tamu dengan kamar utama kami sekitar sepuluh meter tapi suara aliran kran sungguh sangat mengganggu. Air itu akan terus mengalir sebelum tabung penampungan air di atas habis. “Ini tak bisa dibiarkan” gerutu Ane dalam hati, kesal. Lalu Ane bangkit dan bermaksud mematikan kran di depan, melewati gelap ruang tengah. Ane coba tekan stop kontak untuk menyalakan lampu, tapi lampu tetap padam dan nggak mau nyala. “Berarti cuma kebetulan lampu ini konslet…” bisik ane dalam hati. Lalu Ane menuju Kamar mandi dan mematikan kran itu. Sepanjang ane melewati ruang depan dan ruang tengah, bulu kuduk ane merinding dan setiap gerakan ane seolah ada yang memperhatikan ane. Terdengar suara berderap gaduh, seperti suara ramai bocah-bocah yang sedang kejar-kejaran, berlarian menjauhi ruang tamu. Di luar terdengar anjing melolong dengan suara yang nyaring, membuat bulu kuduk Ane berdiri. Ane singkap gorden jendela depan, berusaha melihat ke luar rumah. Sepi senyap. hanya suara lolong anjing yang semakin lama semakin memilukan, lirih, dan hilang. Ane merasa banyak mata yang memperhatikan Ane, ane merasa diawasi.
Ane merasa sia-sia dengan memanggil ketiga Paranormal yang datang sore tadi. Antara marah, sedih dan kalut. Entah berapa paranormal yang pernah kami panggil untuk mengusir hantu-hantu itu. Pada kenyataannya selalu manjur di depan saja, dan hantu tetap meneror kami kembali. Yang terjadi malam ini lebih parah, di luar dugaan. Para hantu seperti ngamuk dan tidak terima.
Beberapa hari kemudian Ane mendapat saran bahwa untuk mengusir hantu, harusnya dengan bantuan orang pintar setempat atau orang pintar yang asli kelahiran daerah dimana terdapat ancaman hantu tersebut. didapatlah nama-nama orang pintar, orang pintar asli kelahiran daerah sini.
Suatu sore, Ane bersama anak dan istri, sedang berada di rumah salah satu sesepuh tempat kami tinggal, namanya Pak Maih. rata-rata orang di sini mengenal nama Pak Maih. Orangnya sudah cukup berumur tua tapi masih nampak gurat semangatnya. Selesai Shalat, Pak Maih membacakan doa-doa panjang. Mulutnya komat-kamit dengan mata terpejam.
“Kenapa kamu ganggu keluarga ini?” begitu suara yang keluar dari mulut pak Maih yang kemudian dijawab sendiri dengan suara yang kali ini lebih berat dan serak.”Itu memang rumah tempat kami tinggal, apa salah kami?” demikian suara serak itu menjawab.
“Ya sudah, kamu dan teman-temanmu pindah dari sana” suara asli pak Maih.
“Siapa yang lebih dulu di sana? kami lahir dan besar di sana” demikian kira-kira sedikit percakapan monolog yang terjadi antara Pak Maih dengan “dirinya” sendiri. Intinya, para hantu itu nggak mau dipindah Gan. Kamipun hanya bisa pasrah. Lalu pak Maih bicara pada kami agar tidak lagi memindah atau mengusir makhluk-makhluk halus yang ada di rumah kami.
“Dipindahkan kemanapun, diusir kemanapun, mereka akan tetap kembali, entah untuk beberapa saat, entah untuk selamanya” kami diam. pak Maih melanjutkan bicara
“Ibarat tanah kelahiran kita, kemanapun kita merantau pergi, suatu saat akan rindu dan pulang lagi sekedar menengok atau kembali pulang ke rumah tempat kelahiran kita.”
“Kenapa kamu ganggu keluarga ini?” begitu suara yang keluar dari mulut pak Maih yang kemudian dijawab sendiri dengan suara yang kali ini lebih berat dan serak.”Itu memang rumah tempat kami tinggal, apa salah kami?” demikian suara serak itu menjawab.
“Ya sudah, kamu dan teman-temanmu pindah dari sana” suara asli pak Maih.
“Siapa yang lebih dulu di sana? kami lahir dan besar di sana” demikian kira-kira sedikit percakapan monolog yang terjadi antara Pak Maih dengan “dirinya” sendiri. Intinya, para hantu itu nggak mau dipindah Gan. Kamipun hanya bisa pasrah. Lalu pak Maih bicara pada kami agar tidak lagi memindah atau mengusir makhluk-makhluk halus yang ada di rumah kami.
“Dipindahkan kemanapun, diusir kemanapun, mereka akan tetap kembali, entah untuk beberapa saat, entah untuk selamanya” kami diam. pak Maih melanjutkan bicara
“Ibarat tanah kelahiran kita, kemanapun kita merantau pergi, suatu saat akan rindu dan pulang lagi sekedar menengok atau kembali pulang ke rumah tempat kelahiran kita.”
Akhirnya kami pulang dengan perasaan lebih plong. Lega rasanya. biarlah hantu-hantu itu tetap datang-datang lagi nggak apa-apa, toh Pak Maih sudah berusaha mengungsikan mereka ke tempat yang jauh. kamipun bertekad untuk nggak peduli jika sewaktu-waktu para setan itu mendatangi rumah kami lagi. Kami bertekad, biarlah hantu-hantu itu tetap tinggal di rumag kami, yang penting kami tidak diganggu. Memang selama ini kami sangat ingin mengusir keberadaan mereka, ternyata malah nggak seperti harapan kami. Pada kenyataannya Omongan Pak Maih terjadi juga. Belum genap satu bulan sejak komunikasi kami dengan Pak Maih yang telah mengungsikan para hantu dengan damai, hantu-hantu laknat itu mulai bermunculan kembali.
Suatu malam, kebetulan Ibu mertua sudah bersama kami lagi, Beliau sengaja datang dari Jawa timur karena kangen pada cucu dan kasihan setelah mendengar cerita kami. Malam itu seperti biasa ane mengerjakan tugas-tugas dari kantor. Ohya Gan, ibu mertua ane ini tidur di kamar tengah yang ada jendela persis bersebelahan dengan ruang tempat ane biasa main komputer. Jadi dari jendela itu, bila kita berada di dalam kamar ini akan dapat melihat jelas keadaan ruang tengah. Tentunya bisa juga melihat siapapun yang sedang ngetik atau browsing di depan komputer di ruang tengah. Ibu mertua ane ini tiba-tiba lemas dan membiru. kami panik, tapi ane mahfum dengan apa yg mungkin telah terjadi.
Siangnya Ibu mertua cerita kepada ane, pada ane sendiri. Kata ibu, setiap malam setiap ane duduk di depan komputer, ibu mertua juga melihat ane sedang mondar-mandir di ruang tengah. Bahkan tadi malam sosok yang menyerupai Ane masuk ke dalam kamar ibu Mertua ane sambil menatap tajam ibu mertua ane, Lalu membentak “Kamu pulang atau mati!” Ya. itu yang diucapkan sosok yang menyerupai ane persis, sambil tetap melotot.
Akhirnya, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka Ane setuju saja saat Ibu mertua Ane pulang sehari setelah adanya teror itu.
Kepulangan Ibu mertua Ane ke Jawa timur cukup membuat istri ane agak terguncang. Baru saja sedikit lega bisa menikmati hidup dalam kenyamanan bersama Ibu, kini harus kehilangan lagi, meski hanya untuk sementara saja. Tapi Ane tahu, hal itu sangat berpengaruh pada ketegaran istri Ane.
Tak terasa dua tahun lebih lamanya, anak kami tumbuh menjadi anak yang sehat dengan kulit putih dan sorot mata tajam. Dia memiliki daya penglihatan ‘lebih’. Ia sering mengerti apa yang sedang terjadi di hadapannya. Mungkin karena terbiasa melihat kerumunan hantu, si kecil jagoan kami menjadi peka pada barang-barang yang kasat mata.
Tempo hari istri Ane sempat bercerita, dia bersama anak kami, menyetrika pakaian di Kamar pembantu. Pada saat istri ane asyik menyetrika, anak ane jalan-jalan sendiri keluar masuk kamar, kadang jalan, kadang dia berlari-lari kecil. Mungkin sudah capek, anak ane masuk lagi menemani ibunya. “Capek ya Ma..?” Tanya sikecil. “Iya nak..” Istri Ane menjawab sambil lalu, sekenanya saja. Lalu Anak ane nyeletuk dengan berkata “Ma.. Mama.. kenapa nggak minta bantu mbak itu saja?” begitu celoteh sikecil dengan suara cadelnya, sambil tangannya menggelayut ke tubuh ibunya.
“Gimana?” Tanya istri Ane kurang faham. Anak ane lalu menunjuk ke tembok kamar sambil berkata “Itu Ma.. Kenapa nggak minta gosokin mbak itu saja?” Istri ane bergidik mendengarnya. Ia memandang ke arah depan tempat yang ditunjuk oleh anak kami. Bulu kuduknya semakin merinding, tapi ia tetap tabah.
“Gimana?” Tanya istri Ane kurang faham. Anak ane lalu menunjuk ke tembok kamar sambil berkata “Itu Ma.. Kenapa nggak minta gosokin mbak itu saja?” Istri ane bergidik mendengarnya. Ia memandang ke arah depan tempat yang ditunjuk oleh anak kami. Bulu kuduknya semakin merinding, tapi ia tetap tabah.
Meskipun untuk hal-hal yang kasatmata ini istri ane kurang peka dan kadang tidak bisa merasakan kehadiran makhluk halus, tapi dia termasuk pemberani untuk ukuran keberanian seorang perempuan. Kadang-kadang kalau Ane sedang dihinggapi rasa takut yang sangat, justru istri Ane lah yang seakan lebih menjadi berani dari Ane. dia bisa menjadi seorang Hero bila teman di sampingnya berubah menjadi lemah.
Beberapa anak tetangga teman bermain anak kami, sering datang ke rumah. usia mereka sebaya dengan usia anak kami. Memang menginjak usia hampir empat tahunan ini si kecil sengaja kami ajarkan untuk bersosialisasi dengan orang lain, minimal dengan teman sebayanya. Tapi sayangnya setiap kali teman-temannya bermain ke rumah, salah satu dari mereka pasti ada yang ketakutan dan cepat-cepat menjauh pergi. Jawaban anak-anak kecil itu selalu dengan menirukan gerakan loncat-loncat kecil seperti gerakan vampir dalam film china. Ach, tidak. Lebih mirip gerakan pocongkkkkkkkkkkkk yang meloncat-loncat kecil. Akhirnya istri Ane lah yang lebih sering mengantar bermain anaknya ke rumah tetangga, daripada mendapati hal kejadian yang aneh.
Suatu hari, Ane belikan dia mainan Kolam renang dari karet seperti yang banyak dijual di pinggir jalan. Ane bahagia sekali melihat anak ane gembira. Paling tidak, ibunya tidak lebih tegang lagi. Pernah di suatu kesempatan anak kami berenang sendiri di dalam kolam renang plastik itu. Tak lama anak kami bermain air, tiba-tiba anak Ane kelihatan sangat pucat dan suhu badannnya panas tinggi, bahkan lama-lama seperti membiru. Tiga hari anak kami diopname di Rumah sakit Simpangan Depok. Hampir setiap waktu anak kami berteriak meminta pulang, sementara obat-obat dari dokter yang diberikan tak kunjung menurunkan panas tubuhnya
—
—
Anak kami selalu meminta di bawa ke luar ruangan sambil memanggil-manggil namanya sendiri. “Pijar… pijar…” begitu selalu yang diucapkan anak kami. Pada hari kedua, seorang bocah pengunjung Rumah sakit yang kebetulan lewat bersama ibunya didepan kami, ketakutan dan lalu berlindung pada ibunya. Mukanya langsung disembunyikan ke baju ibunya. Bocah ini ternyata Indigo yang bisa melihat secara langsung pemandangan kasat mata di hadapannya.
“Takut Bu, Nenek itu.. Bu…” begitu kata si bocah. Ibunya lalu menjelaskan pada kami perihal anaknya itu. Rupanya si bocah melihat ‘seorang’ nenek-nenek dengan wajah yang sangat buruk terus memegangi tangan anak ane.
Ane yang sedang berusaha menenangkan anak ane yang rewel itupun langsung membaca doa-doa. Ibu-ibu yang lain membacakan ayat-ayat suci ke dalam gelas, lalu air itu diminumkan pada anak Ane. Anak ane sedikit tenang, tapi selang satu jam kemudian anak Ane rewel lagi sambil terus memanggil-manggil namanya sendiri. Suaranya bergema, terdengar agak lain dengan suara anak ane dalam kesehariannya. Secara logika, tidak mungki seseorang akan memanggil-manggil namanya sendiri bila dalam kondisi yang sadar. Ane seperti tersadar bahwa adanya anak Ane memanggil-manggil namanya sendiri adalah bukan kemauan anak Ane.
“Takut Bu, Nenek itu.. Bu…” begitu kata si bocah. Ibunya lalu menjelaskan pada kami perihal anaknya itu. Rupanya si bocah melihat ‘seorang’ nenek-nenek dengan wajah yang sangat buruk terus memegangi tangan anak ane.
Ane yang sedang berusaha menenangkan anak ane yang rewel itupun langsung membaca doa-doa. Ibu-ibu yang lain membacakan ayat-ayat suci ke dalam gelas, lalu air itu diminumkan pada anak Ane. Anak ane sedikit tenang, tapi selang satu jam kemudian anak Ane rewel lagi sambil terus memanggil-manggil namanya sendiri. Suaranya bergema, terdengar agak lain dengan suara anak ane dalam kesehariannya. Secara logika, tidak mungki seseorang akan memanggil-manggil namanya sendiri bila dalam kondisi yang sadar. Ane seperti tersadar bahwa adanya anak Ane memanggil-manggil namanya sendiri adalah bukan kemauan anak Ane.
Seorang pengunjung lain memanggilkan tetangganya yang biasa menangani anak yang ketempelan setan, jurig, atau Hantu, namanya Pak Nano. Dengan bantuan pak Nano inilah, akhirnya anak kami bisa sehat lagi dan panasnya normal kembali. “Anak bapak memang ada yang mengikuti” Begitu penjelasan Pak Nano. Selanjutnya Pak Nano membacakan doa-doa dengan tanpa suara, hanya mulutnya saja yang nampak komat-kamit. Sampai menjelang Isya Pak Nano bersama kami, menjaga anak kami agar tidak didatangi Nenek-nenek buruk rupa itu lagi. Dan memang, nenek-nenek itu tak lagi datang ke Rumah sakit lagi ke tempat anak kami dirawat. Nenek-nenek itu kembali ke “rumah”nya, di rumah Kami.
Semenjak kejadian itu, anak kami menjadi hyperaktif, nakal dan suka usil pada temannya. Karena rewel dan sering mengusili teman-temannya ini, lama-lama kami jengah juga. Berbagai referensi dari Internet, koran maupun saran teman Ane lahap. Ane mencari referensi tentang penyembuhan anak hyperaktif. Hingga pada sebuah Rumah sakit di Kelapadua, kami menemukan seorang Psikolog, namanya Pak Rahmat. Kami sering berkonsultasi dengan beliau. Beliau jugalah yang banyak memberikan tips-tips dan berbagai cara penanganan untuk anak yang hyperaktif. Dari seringnya Konsultasi ini, Kami menjadi dekat dengan Pak Rahmat, hingga ada apa-apa yang menyangkut kenakalan anak, selalu Ane konsultasikan padanya.
Suatu ketika Ane mendapat telpon dari Pak Rahmat yang akan memberikan cara terapy anak hyperaktif.
“Bisa Bapak datang ke rumah Saya?” kata suara di telepon.
“OK. Jam berapa Pak?” Jawab ane.
“Nanti Jam 9 malam.” kembali suara Pak Rahmat.
“Nggak bisa siang saja Pak?” Tanya Ane, tapi jawaban Pak Rahmat tetap seperti semula, kami disuruh datang Jam 9 malam.
“Bisa Bapak datang ke rumah Saya?” kata suara di telepon.
“OK. Jam berapa Pak?” Jawab ane.
“Nanti Jam 9 malam.” kembali suara Pak Rahmat.
“Nggak bisa siang saja Pak?” Tanya Ane, tapi jawaban Pak Rahmat tetap seperti semula, kami disuruh datang Jam 9 malam.
Hujan baru saja berhenti mengguyur langit Cimanggis ketika jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam. Bau harum tanah yang terkena air menyebarkan aroma yang sedap. Mencium aroma ini Ane teringat dulu waktu di kampung suka memakan makanan Ampoh, makanan kegemaran nenek Ane dulu. Kami bersiap-siap berangkat menuju ke Alamat Rumah Pak Rahmat, agak jauh dari rumah ane. Sikecil digendong istri ane, keduanya dengan jaket tebal untuk menahan dingin udara malam. Sampai di tengah perjalanan motor Ane mogok, tanpa sebab apa-apa. Sudah ane cek semua normal. Akhirnya kami berhenti di sebuah tempat dan baru melanjutkan perjalanan 30 menit kemudian. Tanpa bantuan siapapun, motor ane kembali bisa dihidupkan.
Sampai di mulut Kampung tempat tinggal pak Rahmat, Ane hubungi nomor telponnya. Lama tidak ada jawaban. Ane panggil lagi, tetap tak ada jawaban, bahkan nomor itu tidak aktif. Kami telusuri alamat yang pernah diberikan Pak Rahmat. sekitar Jam 10 malam Ane coba telpon lagi, baru ada jawaban. “Ya pak, Saya tunggu” Kata pak Rahmat di telpon.
Suasana mendadak terasa dingin, kiri dan kanan jalan hanya tampak rumah-rumah yang sudah mulai tutup jendela. Suara lolong anjing tiba-tiba menyentak perasaan Ane. Kami mulai merasa nggak enak. Tapi perasaan itu Ane tepis dan melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan, terlihat orang-orang berlalu lalang dalam diam. semua diam. Kami berhenti, lalu seorang Ojek menghampiri kami, ojek ini mengenal Pak Rahmat dan mengantarkan kami. Rumah pak Rahmat sederhana dengan pelataran parkir yang cukup luas. di depannya berjajar pot-pot dengan tumbuh-tumbuhan berbagai jenis. Termasuk pohon bunga melati yang harum wanginya langsung tercium hidung ane, agak menyengat. Setelah memarkir motor, Ane menggendong si kecil sementara Istri Ane mengikuti di belakang. Nggak lama kami menunggu, Pak Rahmat muncul dari dalam dengan pakaian putih-putih, bersama istrinya.
Lalu pak Rahmat memperkenalkan istrinya. “Ini istri saya, Markonah” demikian pak Rahmat memperkenalkan diri. Setelah kami berbasa-basi sebentar, pak Rahmat masuk kembali ke dalam rumah, dan keluar kembali sambil menenteng sebuah buku besar. Buku yang sangat tebal tapi nampak sudah kumal. Ane nggak sempat menanyakan kenapa bukunya sudah nampak kumal begitu. setelah banyak memberi penjelasan mengenai hiperaktif dan terapi penangannya, pak Rahmat mengelus-elus leher dan kepala anak ane. sambil memijit dengan gerakan seperti orang sedang mengurut. “nanti jadi anak yang sehat dan pinter ya nak” Ucap pak Rahmat, dan ane mengaminkannya.
Jam sebelas malam Kami berpamitan, Pak Rahmat dan istrinya mengantar kami sampai ke mulut gerbang rumahnya. Terdengar suara anjing melolong, panjang. Entah kenapa tiba-tiba bulu kuduk ane berdiri.
Jam sebelas malam Kami berpamitan, Pak Rahmat dan istrinya mengantar kami sampai ke mulut gerbang rumahnya. Terdengar suara anjing melolong, panjang. Entah kenapa tiba-tiba bulu kuduk ane berdiri.
Kurang dari satu jam kemudian kami sudah sampai di rumah.
“Permisi ya,..” kata kami ketika masuk ke dalam rumah, seolah kami sedang melewati ‘orang-orang’ lain. Ini sudah menjadi kebiasaan kami beberapa waktu lamanya sejak banyak teror oleh hantu-hantu di rumah kami. Terbukti dengan kami lakukan ucapan permisi ini, gangguan hantu sedikit mereda. Badan kami letih, capek.
Udara yang dingin membawa kami ke dalam tidur yang lelap. Tidur dengan tanpa beban.
“Permisi ya,..” kata kami ketika masuk ke dalam rumah, seolah kami sedang melewati ‘orang-orang’ lain. Ini sudah menjadi kebiasaan kami beberapa waktu lamanya sejak banyak teror oleh hantu-hantu di rumah kami. Terbukti dengan kami lakukan ucapan permisi ini, gangguan hantu sedikit mereda. Badan kami letih, capek.
Udara yang dingin membawa kami ke dalam tidur yang lelap. Tidur dengan tanpa beban.
Beberapa bulan kemudian, hari itu kami bermaksud silaturahmi sambil mengkonsultasikan perkembangan si kecil. Kami berangkat siang hari, selesai dhuhur. Sesampainya di perkampungan Pak Rahmat, rumah yang pernah kami singgahi dulu itu tak kunjung ditemukan. Kami pun mencari lagi, muter-muter lagi dan mencari persis seperti yang kami lalui malam itu. Kami juga menanyakan pada penduduk sekitar, tak ketemu juga. Lebih dari satu jam kami mencari, namun tetap tidak ketemu. Lalu kami tanyakan pada orang-orang yang tinggal persis di gang-gang yang pernah kami datangi waktu itu, tidak ada yang tahu.
“Pak Rahmat yang mana ya?”
“perasaan sini nggak ada yang namanya Pak Rahmat”
begitu rata-rata jawaban yang kami terima.
“Pak Rahmat yang mana ya?”
“perasaan sini nggak ada yang namanya Pak Rahmat”
begitu rata-rata jawaban yang kami terima.
Karena sudah kepalang tanggung, kami berusaha mengingat-ingat lagi. kami ikuti jejak yang masih kami ingat. –Kami berhenti di sini, belok di sana, lalu ke sini, ke sini, ketemu belokan lagi, dan persis di depan lapangan.– Dengan pengurutan seperti ini seharusnya pasti ketemu. Tapi, ternyata tetap Tidak!! Rumah itu tetap tidak kami ketemukan. Yang ada di tempat itu, tempat kami menemui Pak Rahmat dan istrinya itu hanyalah RUMAH TUA dengan bagian atap rumah yang sudah tak terawat dan hampir roboh. Bahkan bagian dinding-dinding depan rumahnya sebagian sudah hancur dimakan usia. rumah itu seperti sudah puluhan tahun tidak pernah dihuni.
Spoiler for .:
Karena tak percaya dengan pemandangan di depan mata kami, Ane coba mengulangi lagi dari perjalanan awal, tapi ketemunya tetap Rumah tua itu. Dan, semenjak itu HP Pak Rahmat tidak pernah lagi bisa dihubungi. Kami tanyakan ke Rumah sakit tempat Pak Rahmat pernah dinas, tidak ada yang tahu alamatnya. Satu-satunya alamat, tempat yang kami datangi siang itu.
Spoiler for .:
Karena tak percaya dengan pemandangan di depan mata kami, Ane coba mengulangi lagi dari perjalanan awal, tapi ketemunya tetap Rumah tua itu. Dan, semenjak itu HP Pak Rahmat tidak pernah lagi bisa dihubungi. Kami tanyakan ke Rumah sakit tempat Pak Rahmat pernah dinas, tidak ada yang tahu alamatnya. Satu-satunya alamat, tempat yang kami datangi siang itu.
No comments:
Post a Comment